
Saya rasa, secara sadar maupun tidak, sebenarnya setiap manusia telah berusaha untuk melakukan tindakan Intercultural Dialogue ini.
Ketika kita mengalami pertentangan nilai atau pandangan dengan teman kita (baik yang berbeda budaya maupun tidak) kita tentu berusaha memahami sudut pandang dan maksud teman kita tersebut.
Menurut saya, begitu pula cara kita melakukan intercultural dialogue. Kita berusaha untuk memahami perbedaan dan keserbaragaman pendapat, sudut pandang, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh orang lain.
Bagaimana kita dapat memahami hal-hal tersebut?
Menurut saya, perbedaan ini dapat dipahami dengan pengetahuan, toleransi yang tinggi (sangat 'berbau' PPKn ya...), dan melalui dialog.
Dengan pengetahuan, dengan membaca literatur dan sumber informasi lainnya, kita dapat memahami latar belakang budaya lain, bagaimana sudut pandangnya melihat sesuatu dan nilai-nilai yang dimilikinya.
Seperti juga yang saya alami ketika saya membaca komik, novel, dan film dari negara lain. Misalnya, dengan membaca komik Jepang, saya mengetahui mengenai kebudayaan Jepang, tentang nilai-nilai yang dianut oleh mereka dalam keluarga. Seperti juga ketika saya membaca novel Sidney Sheldon yang memberitahu saya mengenai kebudayaan tidur siang (Siesta) di Spanyol di mana aktivitas kerja mereka dilakukan mulai dari sore hari. Kemudian ketika saya membaca novel Lima Sekawan yang ditulis oleh Enid Blyton, saya memperoleh pengetahuan mengenai budaya masyarakat Inggris untuk minum teh sekaligus makan kue kecil. Lima sekawan juga sangat menyukai bersepeda dan berpiknik. Melalui film, saya dapat mengetahui bahwa ada rasa segan bagi para pemuda Amerika untuk tinggal di rumah orang tuanya. Mereka ingin hidup mandiri.
Dengan toleransi, perbedaan apapun yang kita hadapi dapat kita terima dengan baik. Kita dapat menerima pandangan dan nilai-nilai orang lain sepanjang ia tidak memaksakan pandangan dan nilai-nilainya kepada kita. Maksud saya dengan kata "memaksakan" adalah, memaksa kita untuk memiliki pandangan dan nilai tersebut. Setiap orang memiliki hak asasi dan batasan dari hak asasi seseorang adalah hak asasi orang lain.
Melalui dialog, kita dapat juga langsung menanyakan kepada orang dengan pandangan dan nilai-nilai berbeda tersebut. Tentu sumber informasi primer ini terasa lebih mantap. Di mana setiap pertanyaan kita dan rasa ingin tahu kita dapat terpenuhi. Tentu diperlukan juga komunikasi yang baik.
Setelah melalui pengetahuan, toleransi, dan dialog ini, tentu akan tercipta suatu intercultural dialog yang baik, damai, dan jauh dari rasa curiga. Proses ini perlu dilakukan terus-menerus seperti juga hidup kita yang terus berjalan...